MENJADI GENERASI YANG SEHAT MENTAL

Sehat mental, bukan hanya berarti tidak terdiagnosa gangguan kejiwaan, namun menjadi pribadi yang mampu menjalani kehidupan dengan tentram dan bahagia. Sayangnya banyak orang yang datang kepada ahli jiwa (Psikolog, therapist, konselor atau psikiater) dalam keadaan sudah parah, yaitu keadaan dimana ia sudah hilang kontak dengan realita. Hal ini terjadi karena masih rendahnya kesadaran dalam menjaga kesehatan mental, bisa jadi karena kurangnya pemahaman, atau karena malu.

Padahal, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Kamu menjaga asupan makananmu, kamu berolah raga dan minum vitamin agar tidak mudah sakit. Ketika  kamu sudah mulai merasakan gejala sakit fisik, seperti demam yang tidak kunjung turun, maka yang kamu lakukan adalah mencari pengobatan, seperti itulah seharusnya kamu menjaga kesehatan mentalmu.

Kita dapat mengetahui gejala awal dari gangguan kesehatan mental seperti, stress, sedih berlebihan, marah berlebihan, merasa tidak berdaya, merasakan perasaan bersalah yang amat dalam, mudah cemas, hingga kehilangan minat pada aktivitas dalam waktu yang lama dan berulang.

Menjaga Kesehatan mental dapat dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

1. Mengikhlaskan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengikhlaskan segala sesuatu yang sudah terjadi. Mengikhlaskan artinya, kamu dengan jujur mengakui perasaanmu dan menerima bahwa peristiwa itu adalah bagian dari hidupmu. Sikap ini bukan berarti aib, tapi justru merupakan tanda kecerdasan emosi. It’s ok not to be ok.

2. Memaafkan.

Leave the past in the past. Setelah kamu menerima bahwa segala sesuatu yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah. Maka, kita masuk dalam proses memaafkan.

 

Jika ingin memiliki sifat pemaaf, maka kamu harus berani meminta maaf terlebih dulu meskipun hal tersebut bukan kesalahan kita. Lho, mengapa begitu? Karena kita harus mengakui bahwa meskipun kecil, kita juga punya andil dalam kesalahan itu. Berat memang, tapi minimal kamu udah coba mengucapkan atau mengirimkan pesan saja kepada orang tersebut. Begitulah cara kamu belajar berlapang dada.

 

Setelah kamu terbiasa meminta maaf terlebih dahulu, kamu juga harus belajar memaafkan kesalahan orang yang meskipun dia tidak layak dimaafkan. Maafkanlah mereka, maafkan demi kebaikan dirimu, supaya kamu lega, tentram dan bahagia.

 

Tidak ada orang yang sakit hati, kecuali dirinya sendiri yang mengizinkan rasa sakit itu. Artinya, kamu juga harus meminta maaf  dan memaafkan dirimu sendiri.

3. Mengasihi

Ada tiga komponen dalam mengasihi orang lain:

Afektif (I feel for you)

Jika kamu melihat orang terkena musibah, hatimu ikut bersedih, itu artinya kamu mampu bersimpati, ini adalah landasan bagaimana kamu akan bertidak atas perasaan simpati mu itu.

 

Kognitif (I understand you)

Konflik terjadi karena tidak saling memahami. Suatu saat di jalan kamu disalip oleh mobil, lalu kamu mengumpat, sebelum kamu akhirnya tahu bahwa mobil itu sedang membawa seorang ibu yang akan melahirkan.  Jadi, selalu pikirkan hal positif dibalik perilaku seseorang, dapat menjaga kesehatan mentalmu bukan?

 

Konatif (I want to help you)

Saat kamu sudah mampu menempatkan dirimu pada posisi orang lain, timbulah keinginan untuk membantu, ini lah wujud dari rasa mengasihi.

Melakukan kebaikan meskipun kecil, meskipun hanya sekedar menanyakan kabar, mengucapkan terima kasih, mengucapkan rasa sayang dan meminta maaf, adalah bentuk mengasihi. Dengan mengasihi orang lain, kamu akan merasakan dampak positif kepada dirimu sendiri bukan? Artinya, kamu juga mencintai dirimu. Hal ini menunjukan bahwa kamu sudah menjadi pribadi yang sehat mental.

Hayo, siapa kemarin yang sudah melakukan tantangan Do kindness right now?. Kalau belum, lakukan sekarang juga ya!

 

By: Mutia Wachyu N., S.Psi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *